Jadi dinamikanya sangat jauh dari “LSM-LSM yang menerima bantuan asing.” Atau antek-antek asing lainnya.
Cascading effect ini lebih berasal dari internal pemerintahan Prabowo. Pertanyaan yang harus disampaikan adalah: Apakah Prabowo bisa mengontrol bawahan-bawahannya? Apakah dia tahu faksionalisme yang terjadi? Apakah dia sadar bahwa semua orang berusaha menjilat kepadanya, memberikan laporan-laporan baik, memoles keburukan-keburukan dari pemerintahannya?
Ini semua dilakukan oleh orang-orangnya. Bahkan orang-orang terdekatnya. Laporan Komisi Pencari Fakta tentang Kerusuhan Agustus 2025 (bisa diunduh di website YLBHI) secara panjang lebar telah memetakan indikasi keterlibatan TNI (khususnya BAIS) dalam kerusuhan itu.
Presiden tentu mendapat intelligence briefing setiap hari. Seharusnya dia mendapat pula intisari laporan itu. Kalau tidak? Pastilah ada sesuatu.
Saya kira dalam beberapa saat ke depan, pemerintah akan terus melakukan ‘damage control” ini. Perang Teluk belum menampakkan kepastian akan benar-benar berakhir. Krisis energi telah terjadi di mana-mana. Di negara-negara tetangga, pemerintahan mereka sudah menjatah pembelian BBM dan gas.
Satu yang saya kira perlu diapresiasi dari pemerintahan Prabowo ini adalah bahwa ia tidak memperlihatkan kepanikan. Cadangan BBM Indonesia itu sangat tipis. Kita tidak tahu apakah sesudah Lebaran ini kita masih punya BBM untuk menjalankan kendaraan atau gas untuk memasak.










