Dari Laut ke Darat, Blok Masela Jadi Ladang Surga Gas Abadi

oleh -99 views
Link Banner

@porostimur.com | Ambon: Pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela atau ladang gas Abadi yang diperkirakan akan menampung 6,97 triliun kaki kubik (tcf) gas masih terus berjalan.

Selain itu, Blok Masela diproyeksikan dapat memproduksi gas 421 juta kaki kubik per hari (mmscfd) dan minyak diproyeksikan sekira 8.400 barel per hari.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi mengatakan, jika terealisasi, proyek ini menjanjikan hasil yang yang cukup signifikan. Mulai dari proses awal saat memulai investasi hingga saat produksi. 

“Investasi dari INPEX (Operator Blok Masela) itu kan sekitar USD20 miliar (sekitar Rp282 triliun) itu merupakan investasi yang masuk ke Indonesia cukup besar bahkan terbesar (untuk) investasi,” ujarnya sebagaimana dilansir Pantau.com.

Link Banner

Belum lagi kata dia, ketika sudah mulai konstruksi, Blok Masela yang ada di darat (on shore) akan menambah lapangan pekerjaan. Bahkan turut menghidupkan sektor-sektor lainnya. 

“Pada saat proses konstruksi akan melibatkan kontraktor-kontraktor di Indonesia maka itu juga akan menambah pekerja, menambah lapangan pekerjaan,” ungkapnya.

Ditambah lagi saat mulai berproduksi, potensi penggunaan gas hingga 6,97 triliun kaki kubik (TCF) dan kapasitas kilang hingga 9,5 juta ton per tahun (MTPA).  

Dengan adanya produksi kata dia, maka akan mendorong industri lain terutama yang menggunakan bahan baku gas. Sehingga investasi ini dipastikan membawa efek berganda.

Baca Juga  BUMN Ramai-Ramai Tagih Utang Ratusan Triliun ke Pemerintah, Ini Daftarnya

“Saat produksi dari Masela cukup besar sekali. Kemudian dalam persetujuan itu Indonesia dapat persetujuan maksimal 59 persen nah itu juga pendapatan cukup besar untuk APBN,” ungkapnya.

“Belum lagi industri penunjang transportasi hotel dan sebagainya. Ini akan memberikan dampak multiplayer effect pada keekonomian nasional, maupun juga daerah, khususnya daerah Maluku,” pungkasnya.

Saat ini, hak partisipasi Masela, dimiliki oleh Inpex Masela Ltd. INPEX juga bertindak sebagai operator sebesar 65 persen, sementara sisanya milik Royal Dutch Shell Corporation sebesar 35 persen.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan akhirnya menandatangani revisi Rencana Pengembangan (PoD) Proyek Minyak dan Gas Blok Masela Kepulauan Tanimbar, Maluku. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto lewat siaran pers.

Baca Juga  Satgas Yonarmed 9 Kostrad Kembali Peroleh Senjata Peninggalan PD II & Konflik 1999 di Maluku Utara

Penandatangan dilakukan setelah Menteri Jonan menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mencegah potensi korupsi dalam pengembangan blok yang memiliki investasi besar dan penggunaan kontrak bagi hasil (PSC) cost recovery tersebut.

“Kemarin kita mesti klarifikasi ke KPK. Ada beberapa hal yang menjadi concern KPK, ada beberapa yang sudah diklarifikasi, ada beberapa yang dalam implementasinya harus kita awasi, misal procurement. Dengan KPK sudah selesai, (PoD) sudah ditandatangani oleh Pak Menteri,” kata Dwi, Sabtu, 13 Juli 2019.

Revisi PoD yang sudah disetujui Menteri ESDM ini, menurut Dwi, sesuai rekomendasi dari SKK Migas. “Karena ini investasi besar, nanti Pak Menteri akan lapor Presiden. Secara detailnya Pak Menteri akan sampaikan,” katanya.

Lebih jauh, Jonan menyatakan pemerintah tidak menunda lama, setelah SKK Migas dan Inpex menandatangani Head of Agreement (HoA) pada 16 Juni lalu. Kini PoD yang dibuat berdasarkan HoA tersebut telah siap dieksekusi dan langkah selanjutnya dalam pengembangan Blok Masela ini adalah FID (Final Investment Decision). “FID-nya mereka akan langsung proses, sesuai schedule 1 tahun lagi (selesai),” kata Dwi.

Baca Juga  Enam Bukti Kalau Nyong-Nyong Ambon Itu Layak Jadi Pasangan Masa Depan

Sebelumnya, Senior Specialist Media Relations INPEX Corporation, Mochamad Nunung Kurniawan menjelaskan bahwa INPEX memformulasikan Plan of Development (POD) revisi berdasarkan hasil pekerjaan Pre-FEED dan diskusi berkelanjutan dengan pemerintah agar proyek ini memiliki kelayakan dari sisi keekonomian proyek.

Kontraktor pemenang lelang Pre-FEED Onshore LNG adalah PT KBR Indonesia, sementara Kontraktor Pre-FEED Floating Production Storage and Offloading (FPSO) adalah Konsortium PT Technip Engineering Indonesia dan PT Technip Indonesia. Berdasarkan skema pengembangan LNG darat dengan kapasitas produksi LNG tahunan sebesar 9,5 juta ton.

Sesuai tahapannya, setelah penyelesaian pekerjaan Pre-FEED, INPEX memasukkan revisi POD ke pemerintah serta memperoleh persetujuannya, Pekerjaan FEED (Front End Engineering Design), Final Investment Decision (FID), Engineering, Procurement and Construction (EPC), serta dimulainya produksi.

Nunung menyatakan bahwa hasil dari pekerjaan Pre-FEED Blok Masela ini akan menghasilkan desain kasar fasilitas LNG Darat atau FPSO hingga Kilang LNG darat, estimasi biaya, jadwal yang lebih detil serta lokasi kilang LNG. (red)