Bagi sebagian orang, kegagalan seperti itu mungkin cukup untuk membuat langkah terhenti. Namun, Pius memilih jalan berbeda. Ia menjadikan kegagalan tersebut sebagai alasan untuk berlatih lebih keras.
Kesempatan akhirnya datang ketika ia melanjutkan pendidikan di SMA Pertiwi Namlea.
Dari Lapangan Sekolah, Pius Mulai Menemukan Jalannya
Di SMA Pertiwi Namlea, pintu yang selama ini tertutup mulai terbuka.
Seorang guru olahraga sekaligus guru IPS yang akrab disapa Pak Rahanra memberikan ruang kepada para siswa yang memiliki minat terhadap bola voli untuk berlatih.
Latihan tidak hanya berlangsung saat jam pelajaran olahraga. Waktu istirahat pun dimanfaatkan untuk mengasah kemampuan.
Pius tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Ia berlatih dengan tekun hingga kepercayaan mulai diberikan kepadanya.
Saat duduk di kelas satu SMA, Pius dipercaya memperkuat tim SMA Pertiwi Namlea dalam pertandingan bola voli tingkat Kecamatan Namlea.
Kepercayaan itu terus tumbuh.
Menjelang kenaikan kelas tiga, ia kembali dipercaya memperkuat tim Kecamatan Namlea dalam kompetisi tingkat kabupaten.
Hasilnya pun membanggakan.
Tim yang dibelanya berhasil keluar sebagai juara pertama.
Namun, trofi tersebut justru menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Setelah menamatkan SMA, Pius mengambil keputusan besar. Ia meninggalkan Namlea dan merantau ke Ambon demi mengejar cita-citanya sebagai atlet voli.





