Ia datang tanpa fasilitas mewah dan tanpa kepastian akan berhasil.
Yang dibawanya hanya kemampuan, keberanian, kerja keras dan keyakinan bahwa mimpi tersebut layak diperjuangkan.
Di Ambon, Pius mulai mengikuti berbagai pertandingan antarklub. Ia kemudian bergabung dengan Klub Yarden di Ambon, Laha, di bawah pembinaan Pak Man.
Kemampuan dan potensi yang dimilikinya membuat Pius memperoleh kesempatan berlatih dan bergabung dengan klub tanpa biaya.
Kesempatan tersebut dibayar dengan kerja keras.
Hari demi hari ia berlatih. Turnamen demi turnamen dijalani. Setiap pertandingan menjadi tempat untuk menguji kemampuan sekaligus belajar dari pengalaman.
Perlahan, namanya mulai dikenal di lingkungan bola voli Maluku.
Kerja keras itu akhirnya membawa Pius ke level yang lebih tinggi.
Ia dipercaya memperkuat tim bola voli Provinsi Maluku dalam persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON).
Pemusatan latihan dijalani di Ambon sebelum ia bersama tim mengikuti Pra-PON di Manado pada 1992.
Di Manado, sebuah peluang besar kembali terbuka.
Dari Pra-PON Manado hingga Panggung Bola Voli Nasional
Penampilan Pius di Pra-PON menarik perhatian pelatih Pelita Jaya Jakarta.
Kesempatan tersebut menjadi salah satu titik balik terpenting dalam perjalanan kariernya.
Pada Oktober 1993, Pius berangkat ke Jakarta.




