Film Hollywood Tentang Peristiwa G30S, Wawancara Saksi Mata Peristiwa hingga Konfirmasi CIA

oleh -39 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Sutradara Hollywood pernah membuat film yang bertemakan peristiwa Gerakan 30 September (G30S)

Sejauh ini sudah ada dua film dari sutradara Hollywood yang dibuat berdasarkan peristiwa G30S. 

Berikut dua film tersebut:

1. Film The Year of Living Dangerously

Link Banner
Salah satu adegan dalam film The Year of Living Dangerously.
Salah satu adegan dalam film The Year of Living Dangerously. (NET)

Film ini menjadi salah satu film barat yang sukses memotret peristiwa G30S/PKI. 

Tidak main-main, film fiksi sejarah ini dibintangi aktor dan aktris hollywood, yakni Mel Gibson dan Linda Hunt. 

Film ini merupakan garapan Peter Weir yang menghabiskan dana dari MGM sebesar enam juta dollar.

FIlm ini tayang perdana pada tahun 1982. 

Sebelum diangkat menjadi film, kisahnya sudah ada di sebuah novel di judul yang sama. 

Film itu mengisahkan mengenai para jurnalis internasional yang berada di Indonesia di masa sebelum, saat berlangsungnya, dan sesudah peristiwa G30S/PKI. 

Tapi walaupun film ini berkisah tentang peristiwa G30S/PKI, tetapi pembuatan film ini berlokasi di Australia dan Filipina. 

Film ini berkisah tentang seorang jurnalis ABS (diperankan Mel Gibson) yang ditugaskan meliput di Indonesia pada tahun 1965.

Jurnalis tersebut datang ke Indonesia menjelang peristiwa G30S/PKI berkecamuk di Indonesia. 

Baca Juga  Bela KAMI, Benny K Harman Sebut Buzzer Pemecah Belah Bangsa

Sebagai jurnalis asing, incarannya adalah meliput suasana politik di Indonesia. 

Itulah mengapa setting film ini banyak terjadi di Istana Presiden yang jadi tempat bekerja Soekarno. 

Film ini banyak menunjukkan scene di mana para jurnalis asing hendak mewawancara Soekarno, serta bagaimana mereka diperiksa ketika hendak masuk ke dalam istana presiden pada masa itu. 

Berikutnya film ini terjebak dalam alur romantisme sang jurnalis asing dengan staf di kedutaan Inggris yang diduga agen rahasia. 

Makanya dalam peristiwa ini diceritakan bahwa si agen rahasia itu membocorkan pemberontakan G30S/PKI kepada jurnalis asing tersebut. 

Makanya dia sudah tahu bahwa PKI akan bergerak dari beberapa hari sebelum peristiwa terjadi. 

Sementara itu, para wartawan asing pun memiliki perbedaan pendapat. Ada yang mendukung Soekarno, ada pula yang mendukung PKI. 

Hal itu diperlihatkan detail lewai sikap para pemeran film tersebut. 

Bahkan ditunjukkan pula ada jurnalis asing yang memiliki jalur dan koneksi untuk menemui DN Aidit pada masa itu. 

Baca Juga  Alami Kecelakaan Kerja Karyawan Dok Korea Dilarikan ke Rumah Sakit

DN Aidit merupakan salah satu tokoh yang diincar untuk diwawancarai para wartawan asing, tapi tak semuanya memiliki akses ke DN Aidit. 

Dalam film ini juga kita akan menyaksikan potret kemisikinan Indonesia pada masa itu. 

Lalu ada pula potret pandangan negara barat terhadap Soekarno yang ternyata Soekarno sangat disegani sebagai suara dunia ketiga. 

Kita juga jadi tahu di mana tempat nongkrong para wartawan asing pada masa itu, yakni di Hotel Indonesia di Bundaran HI. 

Selain itu kita juga jadi bagaimana sikap wartawan asing pada masa itu, ternyata beberapa dari mereka gemar bersedekah dengan warga Indonesia. 

Nah, simak langsung saja filmnya supaya lebih jelas ya.

2. Shadow Play 

Adegan di film Shadow Play
Adegan di film Shadow Play (NET)

Peristiwa G30S/PKI dibahas secara jelas dari sudut para korban pembantaian massal pasca peristiwa G30S/PKI dalam film berjudul Shadow Play. 

Film ini merupakan garapan Chris Hilton dengan melibatkan aktor hollywood, Linda Hunt, serta sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer. 

Shadow Play merupakan film dokumenter yang berisi wawancara dengan orang-orang yang menjadi saksi mata peristiwa G30S/PKI, dan mereka yang menjadi tahanan politik pasa G30S/PKI. 

Baca Juga  Warga Capalulu Minta Pemda Normalisasi Kali Sebelum Banjir

Orang-orang ini mengisahkan mulai dari ada di mana mereka ketika peristiwa G30S/PKI terjadi. 

Lalu ada pula yang menceritakan soal peristiwa ketika mereka ditangkap dan ditahan pemerintah. 

Pada akhirnya film ini juga membahas dugaan keterlibatan Amerika Serikat dan CIA dalam peristiwa G30S/PKI. 

Alasan-alasan mengapa dugaan Amerika Serikat dan CIA terlibat pun diframing cukup detail dalam film ini. 

Bahkan film ini juga menceritakan tentang para jurnalis asing yang bekerja di Indonesia ketika peristiwa G30S/PKI pecah.

Pada akhirnya film ini juga meminta konfirmasi dari pihak CIA menyangkut dugaan keterlibatan CIA dalam peristiwa G30S/PKI.

CIA Head Station of Jakarta pada 1964 – 1966, Hugh Tovar,, Hugh Tovar, lalu memberikan klarifikasi mengenai desas-desus keterlibatan CIA. 

Hugh Tovar pun membantah bahwa CIA terlibat. 

Tapi Hugh Tovas membenarkan bahwa CIA mengirim orang ke Indonesia, tetapi itu hanya untuk melaporkan kondisi dan situasi di Indonesia pada waktu itu. (red/wartakota)