Gelombang Panas Eropa Tewaskan Lebih dari 10 Ribu Orang dalam Sepekan, Lansia Paling Rentan

oleh -63 views
Data resmi EuroMOMO, jaringan pemantauan kematian yang didukung oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mencatat sebanyak 10.650 kematian terjadi selama periode 22–28 Juni 2026.

Lansia Menjadi Korban Terbanyak

EuroMOMO mencatat lebih dari 9.000 korban meninggal berasal dari kelompok usia 65 tahun ke atas, menjadikan lansia sebagai kelompok yang paling terdampak selama gelombang panas berlangsung.

Suhu ekstrem diketahui dapat memicu serangan panas (heatstroke), memperparah penyakit jantung dan pembuluh darah, hingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan yang berujung pada kematian.

Menurut Vestergaard, sangat sulit mencari penyebab lain yang dapat menjelaskan lonjakan kematian sebesar itu selain dampak langsung dari panas ekstrem.

“Sulit untuk menjelaskan tingginya angka kematian berlebih ini selain karena panas ekstrem,” katanya.

Meski tidak merinci jumlah korban di setiap negara, EuroMOMO menyebut Prancis dan Belgia sebagai dua negara dengan tingkat kematian berlebih yang masuk kategori sangat tinggi pada pekan terakhir Juni.

Baca Juga  Keberadaan Febrie Adriansyah Masih Misterius, Imigrasi Cegah ke Luar Negeri

Perubahan Iklim Disebut Jadi Pemicu

Sejumlah ilmuwan menilai gelombang panas yang melanda Eropa pada akhir Juni hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Pemanasan global dinilai membuat gelombang panas terjadi lebih sering, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

Selain menyebabkan ribuan kematian, cuaca ekstrem tersebut juga mengganggu berbagai aktivitas masyarakat. Sejumlah negara mengalami gangguan pasokan listrik, menutup sekolah, serta mencatat rekor suhu tertinggi baru, terutama di Prancis, Spanyol, dan Inggris.