“Kata-kata penuh semangat Bung Karno saat peresmian kota ini telah mengguncang dada dan menyalakan api semangat itu: Masohi, yang artinya bekerja bersama-sama, bahu-membahu, tangan bertaut, hati berpadu. Jangan ada yang merasa lebih tinggi atau lebih kecil. Kalau kita mau membangun negeri ini, hanya ada satu jalan: kita harus Masohi,” tegasnya disambut tepuk tangan panjang warga.
Masohi di Era Baru: Gotong Royong dalam Tindakan
Gubernur Hendrik menekankan bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari karakter masyarakatnya.
“Kalau dulu, semangat Masohi diwujudkan dengan angkat batu sama-sama, bangun rumah sama-sama, maka hari ini semangat itu bisa kita maknai dalam konteks baru: bangun ekonomi sama-sama, jaga kebersihan kota sama-sama, lawan hoaks sama-sama, dan jaga kerukunan sama-sama,” ujarnya.
Dengan gaya khasnya yang lugas dan penuh pesan moral, Hendrik menyerukan agar peringatan HUT Kota Masohi dijadikan momentum refleksi diri.
“Kalau kalian masih suka bakalai, jangan mengaku warga Masohi. Kalau suka buang sampah sembarangan, suka langgar aturan, suka mabuk lalu cari gara-gara dengan orang lain, jangan mengaku warga Kota Masohi,” serunya disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Ia juga menyoroti pentingnya disiplin, terutama bagi ASN dan pelajar.









