Ibnu Sina, Ilmuwan Islam Pertama yang Rancang Karantina saat ada Wabah

oleh -21 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Menghadapi pandemi virus corona atau COVID-19, strategi karantina dan isolasi menjadi kebijakan utama di seluruh dunia. Karantina dan isolasi berkembang menjadi berbagai bentuk, yang tujuannya membatasi kontak dengan lingkungan sekitar dan menekan penularan.

Dikutip dari Morocco World News, ada beberapa catatan sejarah tentang metode karantina yang digunakan saat ini. Karantina ditujukan bagi orang yang tidak punya gejala namun ada risiko terinfeksi penyakit. Metode karantina dilakukan mereka yang datang dari daerah terinfeksi penyakit atau kontak dengan pasien.

Bukti sejarah penerapan karantina tertulis dalam The Canon of Medicine karya ilmuwan muslim Ibnu Sina atau Avicenna. Buku wajib dunia kedokteran ini menjelaskan, karantina dilakukan untuk mengawasi penyebaran penyakit menular. Karantina diharapkan bisa menekan infeksi penyakit, sehingga jumlah kasus tidak bertambah.

Baca Juga  Jual Senjata Tajam di Medsos, 2 Pemuda Madidir Dibekuk Polisi

Ibnu Sina dalam bukunya juga menjelaskan seputar infeksi atau kasus penyakit menular. Penjelasan ini dikutip Ihsan Ali dan Ahmet Guclu dalam tulisan berjudul Ibn Sina: An Exemplary Scientist, yang mengambil dari buku Advice to the Young Physician: On the Art of Medicine dari Richard Colgan.

“Cairan tubuh organisme inang, misal tubuh manusia, dikontaminasi organisme asing yang tidak terlihat mata telanjang hingga mengakibatkan infeksi,” tulis ilmuwan asal Iran tersebut.

Definisi Ibnu Sina tentang infeksi sama dengan yang digunakan dunia medis saat ini, termasuk soal mikroorganisme yang tak kasat mata. Dalam hipotesanya, Ibnu Sina menjelaskan penyakit akibat mikoorganisme ini bisa sangat menular pada lingkungan sekitar. Mereka yang terinfeksi harus dikarantina untuk menekan kasus penularan.

Baca Juga  SMPN 6 Ambon swadayakan sarana peningkatan sprituasl bagi siswa

Ibnu Sina adalah dokter pertama yang mendesain metode karantina untuk mencegah penularan penyakit infeksi. Metode ini disebut Al-Arba’iniya atau the fortieth yang diterjemahkan sebagai quarantena dalam Venetian language awal. Sesuai namanya, Al-Arba’iniya adalah sanitary isolation yang dilakukan selama 40 hari dengan membatasi ruang dan gerakan.

Karantina adalah praktik wajib di seluruh rumah sakit pada zaman tersebut untuk mencegah penyebaran kusta. Penyakit kulit infeksius ini ditandai bercak putih pada kulit, yang bisa menyebabkan pasiennya kehilangan anggota tubuh.

Metode karantina menjadi sangat umum di Eropa terutama selama dan setelah serangan wabah Black Death di abad ke-14 dan 15. Wilayah penerapan karantina adalah tempat bertemunya pedagang antar negara misal di Venesia, Italia. Karantina dilakukan selama 40 hari pada seluruh kru dan penumpang kapal yang akan berlayar.

Baca Juga  Bagi Masker, Ketua Bhayangkari Daerah Maluku Keluar Masuk Lorong dan Pemukiman Warga

Efektivitas dan keberhasilan karantina untuk menekan penyebaran epidemik, mengakibatkan metode ini terus digunakan hingga sekarang. Tentunya mekanisme dan durasi menyesuaikan dengan kondisi wabah, sehingga tidak harus 40 hari.

(red/dtc)

No More Posts Available.

No more pages to load.