Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Kematian Ayatullah Ali Khamenei telah memicu gelombang spekulasi tentang masa depan Republik Islam Iran. Dari jauh, di pengasingannya yang nyaman, Reza Pahlavi segera tampil menyerukan rakyat Iran untuk bersiap menyongsong perubahan besar. Nada suaranya penuh keyakinan, seolah runtuhnya rezim para mullah tinggal menunggu waktu.
Tetapi keyakinan itu justru menyingkap satu hal: betapa mudahnya sebagian oposisi di luar negeri menyederhanakan sebuah negara yang jauh lebih rumit daripada sekadar figur pemimpinnya.
Reza Pahlavi berbicara seolah Republik Islam adalah bangunan rapuh yang berdiri hanya karena satu orang: Ayatullah Khamenei. Dalam bayangannya, kematian pemimpin tertinggi itu membuka pintu bagi sebuah Iran baru yang menunggu untuk dilahirkan. Gambaran ini terdengar memikat bagi media internasional dan kalangan diaspora yang lama merindukan perubahan. Namun sejarah Iran menunjukkan bahwa negara itu tidak pernah sesederhana narasi yang dibangun dari pengasingan.
Republik Islam bukan sekadar rezim seorang ulama. Ia adalah jaringan kekuasaan yang berlapis-lapis: ulama, birokrasi negara, Garda Revolusi, milisi, dan lembaga politik yang telah tumbuh selama lebih dari empat dekade. Sistem itu tidak berdiri di atas satu sosok saja, melainkan pada sebuah struktur yang mampu bertahan dari berbagai krisis. Mengira sistem sebesar itu akan runtuh hanya karena wafatnya seorang pemimpin adalah optimisme yang lebih dekat pada harapan politik daripada pembacaan realitas.









