Meksiko memang sedang menghadapi krisis kekerasan terhadap perempuan. Tahun lalu, ada 847 kasus femicide tercatat secara resmi, dan dalam tiga bulan pertama tahun ini saja, jumlahnya telah mencapai 162. Amnesty International melaporkan bahwa pembunuhan perempuan terjadi di seluruh 32 negara bagian di Meksiko.
Sayangnya, tanggapan pemerintah dinilai masih belum memadai. Menurut Direktur Human Rights Watch wilayah Amerika, Juanita Goebertus, hanya sebagian kecil kasus yang berhasil dibawa ke pengadilan. “Pada 2022, sekitar 4.000 perempuan dibunuh, namun hanya 67% kasus yang sampai ke vonis,” ungkapnya.
Kasus TikTok berdarah ini menjadi simbol nyata lemahnya perlindungan terhadap perempuan, bahkan ketika mereka hanya ingin berbagi kebahagiaan lewat media sosial. Tragedi yang menimpa Valeria Marquez menyisakan luka mendalam dan menjadi pengingat bahwa kekerasan bisa terjadi kapan saja, bahkan saat sedang live di TikTok.
(red/beritasatu)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News










