Maka, menempatkan Iran secara jernih menjadi sebuah keharusan. Ia bukan legenda yang tak tersentuh, bukan pula negara yang bisa direduksi menjadi satu wajah. Ia adalah bangsa dengan sejarah panjang, luka yang dalam, kekuatan yang nyata, dan keterbatasan yang tak terhindarkan.
Ia bisa bertahan, tetapi dengan harga.
Ia bisa melawan, tetapi tidak tanpa risiko.
Ia bisa berdiri tegak, tetapi bukan tanpa goyah.
Di situlah kita semestinya berdiri: tidak larut dalam pengagungan yang membutakan, dan tidak pula tergelincir dalam penolakan yang gegabah.
Kita perlu membaca dengan kepala dingin dan hati yang jernih. Sebab ketika sebuah bangsa diubah menjadi mitos, yang hilang bukan hanya kebenaran—melainkan juga kemampuan kita untuk belajar darinya. (**)








