Pernyataan mengenai persenjataan baru dan kemampuan strategis Iran tersebut merupakan klaim dari pihak IRGC dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Mohebi juga mengatakan militer Iran tidak menjalankan diplomasi dengan AS dan menegaskan bahwa tugas utama angkatan bersenjata adalah mempertahankan negara.
Dalam pernyataannya, ia turut mengklaim bahwa dominasi AS di kawasan telah berakhir dan Iran kini memainkan peran utama dalam membentuk tatanan regional. Klaim tersebut merupakan posisi politik dan militer Teheran.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Baru
Ketegangan Iran-AS juga berkaitan erat dengan Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik penting bagi perdagangan energi dunia.
Dalam perkembangan terbaru, Iran menyatakan kesediaan membuka kembali Selat Hormuz apabila AS mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Seorang pejabat Iran mengatakan pembukaan kembali jalur tersebut dapat dilakukan dalam waktu sekitar satu pekan jika persyaratan tersebut dipenuhi.
Krisis terbaru berawal dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026 yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta sejumlah pangkalan AS di kawasan.
Konflik kemudian memasuki fase gencatan senjata dan diplomasi. Pada Juni 2026, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang antara lain berkaitan dengan penghentian operasi militer dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Qatar menyebut kesepakatan tersebut sebagai landasan untuk melanjutkan perundingan dan mencari penyelesaian berkelanjutan.









