Meski demikian, Washington menyatakan perangkat itu merupakan aset lama yang mengalami kerusakan. Pentagon juga mengatakan kendaraan tersebut tidak membawa data sensitif ataupun peralatan yang tergolong rahasia.
Rangkaian insiden itu berlangsung ketika hubungan militer Washington dan Teheran semakin menegang di perairan kawasan.
Amerika Serikat sebelumnya menghancurkan sejumlah kapal tanker minyak Iran setelah menuduh IRGC melakukan serangan rudal balistik terhadap kapal-kapal perang AS. Iran, di sisi lain, melakukan serangan terhadap kapal-kapal Amerika serta sejumlah kapal tanker komersial yang dituduh melanggar pembatasan di sekitar Selat Hormuz.
Konfrontasi tersebut mulai memberikan dampak langsung terhadap lalu lintas pelayaran di salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Gangguan terhadap jalur tersebut turut mendorong harga minyak mentah Brent hingga menembus USD107 per barel, menambah kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Ketegangan juga tidak hanya terjadi di Selat Hormuz. Di sebelah barat kawasan tersebut, kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran dilaporkan semakin memperketat kendalinya atas Bab al-Mandeb, jalur sempit strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia.









