Ironi Syahganda, Jalan Politik Anies, dan Tafsir Baru Etika

oleh -12 Dilihat

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Syahganda Nainggolan pernah berada di barisan pendukung Anies Baswedan—sebagai salah satu juru bicara. Kini, ia memilih jalan bersama pemerintahan Prabowo Subianto. Perubahan pilihan itu sah dalam politik. Tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk terus berdiri di tempat yang sama hanya karena dahulu pernah berada di sana.

Namun, ada ironi ketika seseorang yang pernah mendukung Anies kemudian menyarankan agar mantan tokoh yang didukungnya itu bersedia menerima tawaran menjadi menteri jika kelak diajak bergabung ke kabinet Prabowo. Bahkan, Syahganda menyebut Menteri Pendidikan sebagai posisi yang cocok bagi Anies. Ia juga mengingatkan agar Anies tidak terhalang ego dan gengsi, sembari menjadikan keputusan Prabowo bergabung ke kabinet Joko Widodo pada 2019 sebagai pembanding.

Baca Juga  Anos Yermias Imbau Warga Waspada Kabut Asap, Siapkan Masker Secara Mandiri

Sekilas, saran itu terdengar masuk akal. Politik memang tidak harus membuat orang terus bermusuhan setelah pemilihan selesai. Namun, persoalannya tidak sesederhana ajakannya itu. Ketika seseorang mulai menentukan jabatan yang dianggap cocok bagi tokoh lain, lalu mengingatkannya agar tidak terhalang gengsi, saran itu dapat terdengar seperti penilaian terhadap pilihan politik dan kedewasaan orang yang disarankan.

No More Posts Available.

No more pages to load.