Pada 10 November, The Independent menggambarkannya sebagai “tahun paling mematikan bagi jurnalis” dalam tiga dekade. Puluhan reporter dan pekerja media Palestina telah terbunuh di Gaza dalam waktu satu bulan.
Di tengah invasi Israel terhadap Gaza yang sejauh ini menewaskan lebih dari 11 ribu warga Palestina, jurnalis yang meliput perkembangan di Gaza telah terbunuh atau menjadi sasaran serangan siber, penangkapan, dan ancaman kekerasan
Kantor media dan pemukiman di Gaza juga telah dihancurkan oleh serangan udara Israel. Pengawas kebebasan pers telah memperingatkan kampanye disinformasi yang menargetkan jurnalis di Gaza, yang secara langsung membahayakan nyawa, keselamatan, dan kebebasan mereka.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengatakan, sebanyak 36 jurnalis Palestina gugur dalam serangan Israel. Sementara itu, delapan jurnalis juga terluka, tiga lainnya hilang dan delapan jurnalis ditangkap
. “Perang Israel-Gaza telah menjadi periode empat pekan paling mematikan bagi jurnalis yang meliput konflik sejak CPJ mulai mendokumentasikan kematian jurnalis pada tahun 1992,” ujar pernyataan CPJ, dilansir TRT World, Senin (6/11/2023).
CPJ sedang menyelidiki sejumlah laporan mengenai jurnalis lain yang terbunuh, hilang, ditahan, disakiti, atau diancam, termasuk kerusakan pada kantor media dan rumah jurnalis. CPJ menekankan bahwa jurnalis adalah warga sipil yang melakukan pekerjaan penting selama masa krisis dan tidak boleh menjadi sasaran pihak yang bertikai.









