Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
SEBUAH sistem politik itu rusak ketika sang penguasa tidak lagi percaya kepada sistem yang menopangnya untuk berkuasa. Ini benar dalam semua sistem. Seorang penguasa yang terpilih secara demokratis bisa tidak percaya lagi pada sistem yang memilihnya. Seorang diktator tidak percaya pada sistem otoriter yang menyangga kekuasaannya.
Apa yang dilakukan oleh para penguasa ketika menghadapi soal seperti itu? Ia pergi ke lingkarannya yang terdekat. Yang paling dekat biasanya adalah hubungan darah atau keluarga.
Nepotisme adalah bentuk ketidakpercayaan penguasa akan sistem yang menopangnya berkuasa. Ia tidak percaya pada patih-patihnya; para menterinya, pada militer dan kekuatan polisionil yang seharusnya tunduk dan menjalankan apa yang dia perintahkan.
Itu terjadi dimana-mana. Mao Tse Tung pada masa-masa akhir kekuasaannya lebih mengandalkan istrinya. Fidel Castro menyandarkan diri kepada adiknya.
Oh jangan lupa, Suharto. Pada tahun 1990an, ketika tidak ada lagi yang bisa dia percaya, dia mengelilingi dirinya dengan anak-anak, menantu, ipar, dan saudara-saudaranya. Lahirlah slogan yang paling ampuh dalam mengkarakterisasi Orde Baru: Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme.









