Jokowi Akan Berikan Gelar Pahlawan Nasional Kepada Sultan Babullah

oleh -129 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan memberikan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh yang dianggap berjasa bagi bangsa dan negara semasa hidupnya.

Salah satu penerima gelar Pahlawan Nasional tersebut adalah Sultan Babullah dari Kesultanan Ternate yang pernah berjuang mengusir penjajah Portugis dari Bumi Maluku.

Gelar ini akan diberikan Jokowi pada Hari Pahlawan Nasional, 10 November mendatang.

“Calon penerima gelar pahlawan nasional akan disampaikan langsung oleh Bapak Presiden di Istana Negara pada tanggal 10 November, setelag acara upacara ziarah nasional,” ujar Menteri Sosial Juliari Batubara dalam konferensi pers di Youtube Kemensos, Jumat (6/11/2020).

Link Banner

Dia memastikan bahwa keenam tokoh yang mendapatkan gelar pahlawan nasional sudah melalui proses yang telah ditetapkan. Baik dari Kementerian Sosial maupun Dewan Gelar.

Juliari mengatakan enam tokoh yang mendapat gelar pahlawan nasional berasal dari berbagai daerah. Salah satunya, Maluku Utara dan Papua Barat yang belum memiliki pahlawan nasional.

“Jadi Provinsi Maluku Utara dan Papua Barat memang belum pernah memiliki pahlawan nasional. Apabila tidak ada perubahan, Insya Allah akan diberikan gelar pahlawan nasional pada tahun ini,” jelasnya.

Calon Penerima Gelar Pahlawan

Berikut enam calon penerima penganugerahan gelar pahlawan nasional tahun 2020:

Baca Juga  Sukses dengan Lagu Tapi Bohong, Youtuber Meti Kim Siap Rilis Single ''Raja Gombal''

1. Sultan Baabullah dari Provinsi Maluku Utara

2. Machmud Singgirei Rumagesan dari Provinsi Papua Barat

3. Jenderal Pol (Purn) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo merupakan Kapolri pertama. Domisili di DKI Jakarta

4. Arnold Mononutu dari Provinsi Sulawesi Utara. Dia merupakan tokoh pergerakan dan pernah jadi Menteri Penerangan RI era Presiden Soekarno

5. Mr. Sutan Mohammad Amin Nasution dari Sumatera Utara

6. Raden Mattaher Bin Pangeran Kusin Bin Adi dari Provinsi Jambi

Penguasa 72

Negeri Majapahit dengan duet Hayam Wuruk dan Gadjah Mada-nya boleh saja mengklaim pernah menguasai sebagian besar wilayah Nusantara, bahkan hingga Semenanjung Malaya. Setelah era Majapahit berakhir, tidak ada kerajaan di Jawa yang mampu mengulang kejayaan itu.

Tapi, tidak demikian halnya dengan di timur jauh sana. Sultan Baabullah tidak hanya mengusir orang-orang Portugis dari wilayahnya, tapi juga berperan besar dalam upaya syiar Islam di Kepulauan Maluku dan sekitarnya.

Baca Juga  Benhur Watubun: Soal Pembayaran Tanah RSUD Harus Hati-hati

Setelah Portugis ditendang, jumlah pemeluk Kristen di kawasan tersebut menurun drastis. Banyak orang Kristen yang diislamkan oleh Sultan Ternate itu (Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, 2004:39).

Luas wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate di era pemerintahan Sultan Baabullah juga semakin bertambah. Dengan mengusung misi Islamisasi, Sultan Baabullah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Maluku.

Bahkan, di luar kepulauan tersebut, masih cukup banyak kerajaan yang akhirnya memilih bernaung di bawah panji-panji Kesultanan Ternate.

Sultan Baabullah menempatkan perwakilannya yang disebut Sangaji di berbagai daerah, termasuk Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur, juga di wilayah Timor Leste sekarang.

Tak hanya itu, Sultan Baabullah juga punya perwakilan yang ditempatkan di Jawa dan Sumatera, sampai Papua.

Di Papua sendiri ada cukup banyak daerah yang berhasil dirangkul, seperti Raja Ampat, Sorong, Biak, Jayapura, dan Merauke.

Wilayah taklukan Kesultanan Ternate juga membentang dari Sulawesi Utara dan Tengah hingga Kepulauan Marshall di kawasan Mikronesia, dekat Australia. Filipina bagian selatan alias Mindanao juga berhasil ditundukkan (A.G. Anshori, Hukum Islam: Dinamika dan Perkembangannya di Indonesia, 2008:98).

Baca Juga  Pemain Senior Barcelona Mengaku Kalah, Pasrah Real Madrid Juara

Seorang peneliti Belanda bernama Valentijn merinci setidaknya ada 72 wilayah atau kerajaan yang berada di bawah pengaruh Kesultanan Ternate. Dari situlah Sultan Baabullah memperoleh julukan sebagai “Penguasa 72 Negeri” (Reid, Anthony, Southeast Asia in the Early Modern Era, 1993:38).

Meskipun sangat berkuasa, namun Sultan Baabullah tidak lantas menutup pintu rapat-rapat bagi orang-orang dari Eropa yang kemudian datang.

Mereka tetap dirangkul dan dipersilakan menjalin kerja sama, tapi tidak diberi hak-hak istimewa seperti yang dulu pernah dinikmati oleh bangsa Portugis. Pada awal 1583, Sultan Baabullah wafat.

Hingga sekarang, penyebab kematiannya masih misteri dan menjadi perdebatan. Yang pasti, Sultan Baabullah adalah raja terbesar yang pernah memimpin Ternate.

Setelahnya, kejayaan Kesultanan Ternate berangsur-angsur melemah dan kembali dijamah tangan-tangan asing, dari Spanyol kemudian Belanda. (red/liputan6/tiro)