Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Kita pernah punya angkatan muda yang menulis sejarah dengan darah dan keberanian. Dari mereka lahir perlawanan, revolusi, dan gagasan. Dari mereka, bangsa ini berdiri di atas idealisme yang menyala. Menolak tunduk, menolak sujud di bawah bayang kekuasaan. Namun kini, bendera kepemudaan itu robek di tangan mereka yang mengibarkannya dengan motif lain—bukan cita, melainkan cuan.
Organisasi-organisasi kepemudaan yang dulu menjadi kawah candradimuka ide dan perlawanan kini menjelma ruang negosiasi. Semangat kolektif berubah menjadi transaksi. Di balik jargon “membangun bangsa” terselip urusan tender, posisi komisaris, atau sekadar akses foto bersama penguasa. Ketika kursi ketua menjadi tiket menuju perusahaan pelat merah, maka idealisme pun disembelih di atas meja rapat.
Tak ada lagi gebrakan yang lahir dari kemarahan suci. Yang tersisa hanyalah gaduh di forum-forum pemilihan, di mana kursi beterbangan dan kata-kata kasar menjadi ritual rutin. Kongres yang seharusnya melahirkan pemimpin malah berubah menjadi pasar gelap kekuasaan. Ada amplop di balik pidato, ada restu di balik keputusan. Sementara yang kalah, menuduh dengan getir; dan yang menang, tersenyum sambil menunggu telepon dari istana.








