Oleh: KH. Aguk Irawan Mn, Pengasuh Ponpes Kreatif RUHI Yogyakarta
Di perairan Selat Hormuz yang masih dalam kendali penuh Iran, empat kapal Pertamina yang membawa sekitar delapan juta barel minyak akhirnya diizinkan lewat. Bertahap dua, lalu dua lagi (27/3). Ini bukan sekadar izin teknis pelayaran. Di tengah blokade de facto dan eskalasi konflik yang memanas di bulan Maret 2026, sinyal hijau dari Teheran adalah sebuah anomali.
Kita bisa bayangkan, seandainya satu saja kapal tanker itu dihancurkan seperti kapal Thailand, atau kalau-kalau Iran “balas dendam” dan keempatnya itu dimusnahkan, apa yang terjadi pada “stock” energi (BBM) kita? Delapan juta barel tidaklah sedikit. Tetapi, sebuah kemurahan hati datang dari pemimpin tertinggi Iran atau mungkin, sebuah teguran halus yang “dibalut” kebaikan.
Bagaimana mungkin, sebuah bangsa yang berkali-kali “disakiti” oleh kebijakan luar negeri Indonesia, era pemerintahan Prabowo— tetapi Iran seperti tak merasakannya. Meski mungkin ia tidak akan pernah lupa, terutama penolakan mendadak dua kapal perang mereka, Mahdavi dan Shahid Abbas, pada Februari 2025 lalu—justru memberikan jalan bagi kebutuhan energi kita? Kita sungguh, perlu menundukkan kepala sejenak, merenung, dan jujur pada sejarah yang baru saja diukir.








