Di sinilah letak sentuhan kemanusiaan dan martabat diplomatik yang sesungguhnya. Iran, dengan segala luka akibat penyitaan MT Arman 114 pada tahun 2023 dan kapal itu kini dilelang Kejaksaan, serta penolakan MNEK Februari 2025, tidak membalas air tuba dengan air tuba. Mereka menunjukkan bahwa dalam budaya Timur, martabat dan “keramahan” (hospitality) kadangkala lebih tinggi daripada balas dendam.
Ini adalah sebuah renungan bagi bangsa ini. Kemurahan hati Iran di Selat Hormuz adalah cermin yang memantulkan kembali wajah kebijakan luar negeri kita. Apakah kita sudah benar-benar menerapkan “bebas aktif”, atau kita hanyalah pion di papan catur kekuasaan Barat?
Luka Iran mungkin tersembunyi di balik izin perlintasan kapal-kapal Pertamina. Tapi, kemurahan hati mereka adalah pengingat, bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa besar tekanan negara adidaya, melainkan dari seberapa teguh kita memegang komitmen pada sahabat di masa sulit.
Almarhum Sayyid Ali Khamenei selalu mengingatkan bangsanya, apapun itu, sesama muslim itu bersaudara. Indonesia adalah saudara, dan “Islam” mestinya di atas negara. Terima kasih, Iran. Di tengah dinginnya hubungan diplomatik, kemurahanmu adalah kehangatan yang mengharukan buat Indonesia. Wallahu’lam. (**)









