Qurban bukan Qurban

oleh -1 views

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Beduk Idul Adha bertalu-talu. Takbir menggema. Sapi-sapi mulai gelisah. Bukan karena takut disembelih. Tapi karena mereka mendadak sadar: harga dirinya naik drastis. Dari hewan ternak berubah menjadi simbol politik nasional.

Seekor sapi di pelosok Jawa Barat kabarnya sampai pingsan kecil ketika mendengar dirinya dibeli delapan puluh juta rupiah. “Saya ini sapi atau apartemen studio di pinggir Jakarta?” katanya sambil mengunyah rumput dengan penuh eksistensialisme.

Negeri ini memang ajaib. Di tempat lain, rakyat antre minyak goreng. Di sini, sapi antre masuk APBN.

Dan semuanya diumumkan dengan khidmat. Dengan bangga. Dengan nada seolah-olah langit ketujuh baru saja menurunkan wahyu peternakan nasional ke Istana. Dengan dibungkus kalimat pengaman, “Bantuan kemasyarakatan” untuk qurban.

Baca Juga  Membunuh Kebinatangan Manusia

Sekretariat Negara menjelaskan bahwa Presiden Prabowo menggelontorkan sekitar Rp100 miliar untuk membeli 1.098 sapi kurban premium dari peternak lokal. Bahkan ada sapi berbobot 1,3 ton untuk Masjid Istiqlal. Sapi itu mungkin kalau lewat di jalan tol, pengendara memberi sein duluan.

Tentu narasi Istana indah sekali. Memberdayakan peternak lokal. Menggerakkan ekonomi rakyat. Mendukung swasembada daging. Mengurangi impor sapi. Pokoknya lengkap. Tinggal kurang slogan: “Dari kandang menuju kedaulatan nasional.”

No More Posts Available.

No more pages to load.