Oleh: Simon Batmomolin, Aktivis pemuda
Memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah—khususnya antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz—bukan sekadar isu global yang jauh dari denyut kehidupan masyarakat Indonesia. Gangguan terhadap rantai pasok minyak dunia berpotensi memicu lonjakan harga energi, yang pada akhirnya menjalar ke berbagai sektor ekonomi nasional.
Indonesia, sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, berada dalam posisi rentan. Ketika harga minyak dunia merangkak naik, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ikut meningkat, terutama dalam menjaga keberlanjutan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Dalam situasi fiskal yang terbatas, kebijakan menaikkan harga BBM kerap menjadi opsi yang sulit dihindari—meski selalu menyisakan konsekuensi sosial yang tidak kecil.
Namun di balik kebijakan makro tersebut, terdapat kelompok yang kerap luput dari sorotan: pekerja dalam ekonomi gig, khususnya di sektor transportasi berbasis aplikasi. Mereka adalah para pengemudi ojek online (ojol), kurir makanan, hingga pekerja logistik harian—kelompok yang menggantungkan penghasilan pada mobilitas tinggi, yang secara langsung bertumpu pada konsumsi BBM.










