Dan mari kita bertanya dengan jujur:
Mengapa daerah yang kaya masih merasa miskin dalam rasa keadilan?
Jangan Biarkan Jakarta Menjadi Matahari Tunggal
Indonesia terlalu luas untuk memiliki satu matahari.
Itulah barangkali persoalan terbesar sentralisme.
Ia selalu cenderung menganggap pusat sebagai matahari dan daerah sebagai planet.
Pusat menentukan orbit.
Pusat menentukan musim.
Pusat menentukan arah angin.
Daerah tinggal berputar.
Padahal Indonesia bukan tata surya yang sederhana.
Ia adalah gugusan pulau.
Setiap pulau memiliki matahari sendiri.
Setiap daerah mempunyai sejarah.
Setiap masyarakat memiliki ingatan.
Dan setiap kebudayaan memiliki cara sendiri untuk memahami martabat.
Maluku Utara bahkan mempunyai kosmologinya sendiri dalam sejarah Maloko Kie Raha: Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo.
Empat pusat kekuasaan yang dalam perjalanan sejarah membentuk sebuah ruang politik dan kebudayaan yang tidak bisa dipahami hanya dengan satu garis komando.
Maka jika hari ini gagasan federal kembali tumbuh, kita tidak harus buru-buru menyimpulkan bahwa Maluku Utara sedang hendak meninggalkan Indonesia.
Boleh jadi Maluku Utara sedang meminta Indonesia mendengarkan kembali sejarahnya.
Federasi Bukan Jalan Keluar Otomatis
Tetapi di sini saya juga ingin mengingatkan mereka yang sedang mengusung federalisme:











