Ketika Kritik Berubah Menjadi Vonis: Siapa Sebenarnya yang Membungkam Nalar?

oleh -91 Dilihat

Apabila pemeriksaan menunjukkan adanya kekeliruan kebijakan, perbaikan harus dilakukan. Jika tuduhan tidak sesuai dengan fakta, klarifikasi perlu disampaikan secara terbuka. Jika persoalannya terletak pada komunikasi yang buruk, mekanisme komunikasi harus dibenahi agar kesalahpahaman serupa tidak berulang.

Langkah semacam ini jauh lebih bermanfaat daripada memperbesar pertentangan melalui kata-kata yang menyerang pribadi.

Nama baik institusi tidak dibangun dengan menutupi kesalahan. Ia dibangun melalui keberanian mengakui kekeliruan, memperbaiki kebijakan, dan memperlakukan seluruh warga kampus secara adil.

Demikian pula, menjaga idealisme mahasiswa tidak berarti membenarkan semua tuduhan terhadap pimpinan. Kedua pihak harus berangkat dari prinsip yang sama: fakta perlu diperiksa, kewenangan harus dipertanggungjawabkan, dan setiap orang berhak memperoleh penilaian yang adil.

Kampus yang bermartabat bukan kampus yang selalu dianggap benar, melainkan kampus yang bersedia menjelaskan keputusan, menerima koreksi, dan memperbaiki diri ketika terbukti keliru.

Baca Juga  Bahlil Lahadalia Masuk 10 Besar Menteri Berkinerja Terbaik Versi Survei PPI

Kita tidak ingin perguruan tinggi menjadi ruang yang steril dari perbedaan pendapat. Kampus yang menutup ruang kritik berisiko kehilangan kemampuan untuk mengenali dan memperbaiki kesalahannya sendiri. Namun, kita juga tidak ingin kritik kehilangan nilainya karena dibangun di atas tuduhan yang belum diuji.

No More Posts Available.

No more pages to load.