Ketika Kritik Berubah Menjadi Vonis: Siapa Sebenarnya yang Membungkam Nalar?

oleh -129 Dilihat

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk meniadakan kritik. Sebaliknya, pertanyaan itu diperlukan agar kritik tidak berhenti sebagai ekspresi kekecewaan, melainkan berkembang menjadi argumentasi yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebab, membela kebebasan akademik tidak berarti membenarkan setiap tuduhan yang disampaikan atas nama idealisme.

Dalam opininya, Rahmat menceritakan percakapan dengan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMMU mengenai rencana demonstrasi sejumlah organisasi mahasiswa. Dekan mempertanyakan apakah mahasiswa FISIP mengetahui rencana aksi tersebut. Rahmat menjawab bahwa mereka tidak menerima informasi ataupun undangan konsolidasi.

Peristiwa itu kemudian menjadi titik berangkat untuk mempertanyakan situasi kebebasan mahasiswa di lingkungan kampus.

Tidak ada yang keliru dari sikap mempertanyakan keadaan kampus. Tradisi intelektual justru tumbuh ketika seseorang berani menguji kebijakan dan mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak wajar. Persoalannya muncul ketika sebuah percakapan yang terbatas dijadikan pijakan untuk menarik kesimpulan yang lebih luas mengenai pembungkaman mahasiswa, kemerosotan moral akademisi, hingga buruknya kepemimpinan rektor.

No More Posts Available.

No more pages to load.