Saya membayangkan sebuah meja panjang di sebuah ruang kekuasaan. Di atasnya tersedia makanan, sementara orang-orang yang duduk mengelilinginya berbicara tentang negara, rakyat dan masa depan. Rocky membawa filsafatnya, Paman Usman membawa sejarahnya, sementara para politisi membawa kepentingan politiknya masing-masing. Tetapi di luar ruangan itu, ada rakyat yang sedang menghitung harga beras, seorang ibu yang mengatur uang belanja agar cukup sampai akhir bulan, seorang nelayan yang menunggu laut memberi ikan, seorang buruh yang berharap upahnya tidak habis sebelum tanggal gajian berikutnya, dan seorang anak muda yang mencari pekerjaan di tengah dunia yang semakin mahal.
Mereka mungkin tidak pernah diundang ke meja itu, tetapi merekalah alasan mengapa meja tersebut harus ada.
Karena itu, saya tidak terlalu tertarik pada apa yang tersaji di piring Rocky dan Paman Usman. Saya lebih tertarik pada apa yang akan mereka bawa dari meja itu kepada mereka yang berada di luar. Jika Rocky masih membawa keberanian filsafatnya, maka kekuasaan seharusnya tidak membuatnya berhenti bertanya. Jika ia masih percaya pada akal sehat, maka akal sehat itu harus digunakan untuk mengganggu keputusan yang keliru, bahkan ketika keputusan tersebut datang dari orang-orang yang kini menjadi bagian dari rumah politiknya.









