Porostimur.com, Jakarta – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengecam tindakan represif yang diambil kepolisian dalam penanganan aksi massa di Ternate, Maluku Utara, pada 18 April 2022 kemarin.
Wakil Koordinator KontraS Rivanlee Anandar menyatakan, dalam berbagai video/foto yang tersebar di media sosial, terlihat bahwa polisi begitu brutal menanggapi demonstrasi mahasiswa dengan memukul massa aksi secara membabi buta, menembakkan gas air mata, menembakkan water cannon hingga merusak mobil komando, serta menangkap beberapa demonstran dengan sewenang-wenang.
“Upaya penyampaian pendapat seharusnya tidak disikapi dengan tindakan brutal yang pada akhirnya menimbulkan korban. Kami melihat bahwa lagi-lagi negara dalam hal ini aparat gagap dalam menanggapi kritik publik yang disampaikan lewat metode demonstrasi,” ungkap Rivanlee melalui siaran pers yang diterima, Selasa (19/5/2022).

KontraS sendiri mendapatkan informasi unjuk rasa dalam rangka menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Ternate tersebut berakhir dengan kericuhan. Peristiwa terjadi di Jl. Pahlawan Revolusi yakni persisnya di depan kantor wali kota sekitar pukul 17.56 WIT dan jalan menuju Bandara Baabullah depan kampus Universitas Khairun sekitar pukul 15.18 WIT.




