Kain itu sudah sedikit kusam. Beberapa bagian lipatannya mulai menguning. Aku merapikannya, lalu mengikatkannya pada ujung bangku kayu.
Angin segera menggerakkannya.
Dari kejauhan, kain putih itu terlihat seperti seseorang yang sedang melambaikan tangan.
Aku teringat kalimat yang pernah kuucapkan kepadanya tujuh tahun lalu.
Kalau ale rindu beta, simpan ini.
Malam itu aku akhirnya mengerti, mungkin bukan dia yang selama ini kutunggu. Aku hanya menunggu sebuah jawaban dari masa lalu. Jawaban tentang apakah cinta kami pernah benar-benar berarti.
Dan sore tadi, aku sudah mendapatkannya.
Aku bangkit, lalu berjalan meninggalkan dermaga.
Di belakangku, lenso putih itu terus bergerak diterpa angin laut. Aku tidak menoleh lagi.
Namun, baru beberapa langkah, telepon genggamku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang masih kuhafal di luar kepala.
Terima kasih karena ale pernah mencintai beta.
Aku membaca pesan itu berulang kali. Jempolku sempat bergerak hendak membalas, tetapi akhirnya kuhapus semua kata yang sudah kutulis.
Aku hanya memasukkan kembali telepon ke saku.
Sebab, ada jawaban yang tidak perlu dikirimkan.
Dan ada cinta yang tidak harus dimenangkan.
Malam itu aku pulang sendirian. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, aku tidak lagi berharap mendengar suara langkah seseorang di belakangku.









