Lenso Putih di Ujung Rindu

oleh -73 Dilihat

“Beta su janji datang.”

Ia tersenyum tipis. “Dolo juga ale sering janji.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Di antara kami, laut membentang tenang. Beberapa perahu nelayan bergerak perlahan menuju pantai. Anak-anak kecil berlarian di sekitar dermaga, sementara suara pedagang pisang goreng terdengar dari arah jalan. Semuanya terasa biasa saja, seperti sore-sore lain di kota ini.

Hanya perasaanku yang mendadak berantakan.

“Masih suka datang ka sini?” tanyanya.

“Kadang-kadang.”

“Masih duduk di bangku yang dolo?”

Aku mengikuti arah pandangannya. Sebuah bangku kayu tua dengan cat putih yang mulai mengelupas masih berada di tempat yang sama. Dulu, hampir setiap sore kami duduk di situ. Bercerita tentang banyak hal, tentang rumah yang ingin kami bangun, tentang pekerjaan, tentang masa depan, dan tentang janji-janji yang waktu itu terasa begitu mudah untuk ditepati.

Baca Juga  Protes Pengiriman Senjata untuk Israel, Pekerja Pelabuhan di 22 Negara Mogok Kerja

“Masih,” jawabku.

Ia mengangguk pelan.

“Beta pikir ale su lupa tempat ini.”

“Tempatnya seng pernah beta lupa.”

“Orangnya?”

Aku menoleh kepadanya.

Ia tersenyum, tetapi kali ini senyumnya tidak sampai ke mata.

Kami berjalan menuju bangku kayu itu. Ia duduk lebih dahulu, sementara aku mengambil tempat di sampingnya. Ada jarak kecil di antara kami. Jarak yang mungkin tidak berarti bagi dua orang yang baru berkenalan, tetapi terasa begitu jauh bagi dua orang yang pernah saling menggenggam tangan dan berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain.

No More Posts Available.

No more pages to load.