Mengenang Utrecht di Akhir 2001

oleh -2 Dilihat

Cerpen Karya: Dino Umahuk

Kereta dari Amsterdam berhenti perlahan di Utrecht Centraal. Musim semi hampir berakhir. Cahaya matahari masih menggantung panjang meski jam telah menunjukkan hampir pukul delapan malam. Orang-orang bergegas pulang, sementara Johan Latumahina justru melangkah pelan, seakan setiap sudut kota itu sedang membisikkan kisah yang telah lama menunggunya.

Ia datang dari Ambon tiga bulan sebelumnya sebagai mahasiswa pertukaran di Universitas Utrecht. Selama ini Belanda baginya hanyalah negeri dalam buku-buku sejarah: negeri yang menjajah, lalu menjadi rumah bagi ribuan orang Maluku yang tak pernah sempat kembali.

Namun sore itu, sejarah tiba-tiba memiliki wajah.

Di sebuah rumah sederhana di kawasan Lunetten, Oma Martha menyambutnya dengan pelukan yang hangat.

Baca Juga  Menteri Nusron Dorong Transformasi Layanan Pertanahan: Pasti, Cepat, dan Terukur

“Nyong… beta su tunggu dari tadi,” katanya dalam Melayu Ambon yang masih fasih, meski logat Belandanya tak lagi bisa disembunyikan.

Johan tersenyum.

Ia baru pertama kali bertemu keluarga jauhnya itu.

Oma Martha adalah sepupu almarhum kakeknya di Ambon. Sejak muda ia tinggal di Belanda. Puluhan tahun hanya bertukar kabar lewat surat, lalu telepon, dan belakangan melalui internet.

Di meja makan telah tersaji papeda, kuah ikan kuning, sambal colo-colo, dan kasbi goreng.

No More Posts Available.

No more pages to load.