Liciknya Netanyahu

oleh -343 views

Netanyahu sedang bermain catur dengan niat menghabiskan papan — menolak peran Turki dan Qatar, menolak pasukan asing, bahkan membangun perlintasan baru di samping Rafah yang sepenuhnya ia kendalikan. Tujuannya satu: kendali mutlak, entah sampai kapan.

Maka, keikutsertaan Indonesia bisa dibaca sebagai upaya memegang kerah baju proses ini agar tak sepenuhnya disetir satu pihak. Diplomasi dari dalam, sambil mengetuk meja bila perlu.

Jika Trump sungguh ingin rencananya berhasil, ia harus membuktikan satu hal: mampu menjinakkan Netanyahu, satu-satunya orang yang berkepentingan agar perang tak pernah benar-benar usai demi menyelamatkan karier politiknya sendiri.

Pelajaran pahit Gaza sederhana tapi kejam: maut tak menunggu hasil rapat. Sementara kita berbincang, artileri bisa kembali berbunyi.

Indonesia kini meniti jembatan yang dibangun Trump, sementara di bawahnya Netanyahu sibuk menggergaji tiangnya.

Baca Juga  Dolar Kabur, Mafia Makmur

Harapannya satu — Presiden kita bukan hanya pandai masuk, tetapi juga berani keluar dengan kepala tegak jika perdamaian yang dijanjikan ternyata hanya fatamorgana di atas puing-puing Gaza.

Sebab pada akhirnya, kredibilitas bangsa tidak diukur dari berapa banyak akta yang ditandatangani, melainkan dari seberapa nyata kemerdekaan yang kelak dirasakan anak-anak Palestina yang hari ini masih menggigil kedinginan. (**)

No More Posts Available.

No more pages to load.