Ada Apa Dengan Republik Ini?

oleh -27 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Saipul Jamil adalah seorang predator seksual. Anda tahu artinya predator? Pemangsa. Ia memangsa anak-anak remaja yang diundang menginap dirumahnya untuk sebuah acara televisi dimana dia menjadi bintangnya.

Anak-anak remaja itu tertarik karena Saipul Jamil orang terkenal. Dan dari situlah dia bebas memangsa mereka. Dalam hal ini, dia melecehkan mereka secara seksual.

Orang mungkin akan berpikir, hanya segitu saja kah? Kalau Anda tidak tahu bagaimana trauma menderita pelecehan dan kekerasan seksual, Anda mungkin akan berpikir demikian.

Untuk para korbannya, pelecehan ini meninggalkan trauma mendalam. Seringkali mereka merasa tidak berharga dan membenci tubuhnya sendiri. Banyak yang menderita depresi dan kemudian bunuh diri.

Saya tahu persis ini karena saya pernah bicara dengan beberapa dari mereka. Sungguh sulit keluar dari situasi ini.

Saipul Jamil sudah masuk penjara. Namun para produser TV menganggapnya dia sudah menerima ganjarannya. Maka para produser ini merancang “come back” si Saipul Predator Seks ini. Tidak ada sedikit pun dalam pikiran mereka tentang korban. Tentang trauma. Tentang depresi. Tentang bagaimana orang merasa dirinya kotor sesudah disentuh Saipul.

Baca Juga  Tahu Bulat

Di balik semua kepedihan dan kedegilan itu, hari ini saya membaca satu berita yang malah lebih degil lagi. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dikutip oleh media mengatakan bahwa tidak masalah Saipul tampil di TV. Dia akan menjadi “edukator” untuk kejahatan seksual.

Saya tidak tahu apa maksudnya. Hari ini saya membaca bahwa Saipul tidak boleh tampil menghibur. Ketua KPI juga mengatakan bahwa Saipul harus dibatasi gerak-geriknya. Dibatasi tapi boleh tampil di publik? Sebagai edukator? Sebagai bagian dari edukasi?

Saya sungguh tidak mengerti dengan cara berpikir para pejabat kita akhir-akhir ini.

Beberapa waktu lalu, seorang komisioner KPK mengatakan bahwa narapidana “survivor” korupsi alias koruptor akan menjadi instruktur yang memberi penyuluhan tentang bahaya korupsi!

Waktu itu, saya sempat berpikir, oh, jadi pemerkosa bisa mengajarkan soal pemerkosaan kepada anak-anak si komisioner ini?

Sampai kemudian ada pernyataan Ketua KPI, pikiran saya tiba-tiba menjadi kenyataan.

Saya tidak tahu bagaimana orang-orang dengan pikiran keblinger seperti ini sampai ke puncak-puncak kekuasaan di negeri ini. Mereka adalah pembuat kebijakan. Dalam hidup bernegara mereka adalah orang-orang yang membuat “common good” atau kebaikan bersama untuk semua orang di negara ini.

Baca Juga  Wakil Ketua Komisi III DPR RI: Tindak Tegas Oknum Polisi Pemerkosa Remaja 16 Tahun di Malut

Tidakkah mereka mengerti makna dari edukasi atau pendidikan? Bukankah dengan mengerti kejahatan kita tidak perlu belajar dari penjahat? Tapi kita punya ahli-ahli yang tahu semua hal tentang kejahatan mulai dari sebab musababnya hingga ke taktik dan tekniknya?

Bukankah pelaku kejahatan itu harus disisihkan dari hidup masyarakat umum karena dia merusak ‘civic bonum’ itu sendiri? Mengapa orang harus belajar dari dia?

Di Amerika Serikat, setahu saya, predator seksual seperti Jamil itu akan dicatat domisilinya. Kalau Anda mencari di mesin pencari “registered sex offenders” dan sebut nama kota dan negara bagian, niscaya Anda akan mendapati nama dan alamatnya.

Orang-orang seperti Jamil itu berbahaya karena menurut data dia cenderung untuk mengulang perbuatannya. Itulah sebabnya orang-orang seperti dia diumumkan ke publik. Sialnya, harga properti di sekitar tempat tinggal orang-orang seperti itu cenderung turun. Bahkan sesudah dia menjalani hukuman pun dia masih membikin susah masyarakat kebanyakan.

Kembali ke ide untuk menjadi para penjahat ini, entah dia penjahat seksual atau maling/garong uang milik masyarakat, bagaimana pikiran keblinger menjadikan mereka pendidik itu lahir?

Baca Juga  Tiga Klub Berebut Pemain Sayap Timnas Belanda Eljero Elia

Saya mencurigai dua hal. Pertama, kekuatan para penjahat ini dengan daya dukungnya. Jamil didukung oleh industri entertainment negeri ini dan stasiun-stasiun TV. Bahkan KPI, yang oleh publik hanya dikenal dengan kebiasaannya melarang dan menyensor tiba-tiba kini berbalik menjadi lembaga yang memperbolehkan.

Untuk KPK, saya menduga bahwa semua koruptor ini adalah orang-orang berpengaruh. Mereka adalah para politisi. Para pemain kekuasaan. Dalam kondisi dimana independensi dan kekuatan KPK yang semakin keropos dimakan kanker dari dalam, adakah sesuatu yang mengherankan kalau mereka berusaha menjilat kepada orang-orang hukuman yang mendudukkan para komisioner ini di tempat mereka sekarang?

Yang kedua adalah kegagalan pendidikan di negeri ini sudah pada level yang amat menyengsarakan. Darimanakah para pejabat ini belajar? Dari para penjahat?

Dilihat dari caranya berpikir, saya mau tidak mau menduga demikian.

Sungguh ada yang sangat salah di Republik ini sehingga orang-orang yang seharusnya menegakkan kebaikan umum berpikir untuk memutihkan kejahatan.

Terus terang, saya cemas sekali. Entah Anda! (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.