Lima Puisi Wirol Haurissa

oleh -323 views

Ternate, Laut dan Tidore

pada sore yang tipis. dari ternate, “saya datang” ke situ; orang-orang bilang itu tidore seperti cerita dalam buku pelajaran sekolah. saya duduk di dekat laut di atas motor kayu bersama kekasih dan dua belas sahabat dalam cerita yesus melewati ombak yang rata. setelah tiba di pelabuhan, saya pikir baru kali ini, kami bertemu sultan dan saudara muslim yang bersahaja.

masih pada sore, tatapan lebar dan senyum laut “di bulu” orang-orang menyebutnya tomalou, kampung nelayan yang membuat saya duduk di kanan seperti luas tanah lapang hijau tempat anak-anak pelayaran tinggal, langit-langitnya di penuhi burung furnitur, musiknya dari suara lumba-lumba dekat pulau mare, lantainya dari ombak, lalu atapnya dari awan-awan. semuanya dilihat kie matubu, gunung tinggi yang membusungkan dadanya ke langit.

Baca Juga  Tiba di Saumlaki, Rombongan Ketua DPD Golkar Maluku Disambut dengan Upacara Adat

sore sudah tebal. malam sudah bertamu semacam perjalanan kami yang sejuh dengan memandang sampan dengan kekuatan dari laut. ada keramahan, pembagian yang adil dan ketenangan. dari situ, saya pikir; kami dan mereka adalah cerita yang tertinggal tanpa untung atau rugi.

Tidore, 12 Agustus 2022
========

Sanana

aku tahu sedikit, rasanya tiga hari di sini. air pasang membuat kapal melekat pada pantai. aku menceritakan ini pada seseorang di hari ke empat. dia adalah pelaut yang membawa segelas teh untuk diteguk begitu manis seperti pemandangan laut di pagi hari. aku melihat wajahnya gembira meraba laut telah rapi dan sinar matahari yang miring tiga puluh derajat ke daratan. aku pikir, situasi ini akan membuat kapal belayar dan tidak mengapung lagi di pelabuhan. tapi apa guna semua itu tanpa izin dari perkiraan cuaca dan komendur.

No More Posts Available.

No more pages to load.