Marsinah, Munir, dan Ingatan Keadilan Negara yang Pincang

oleh -65 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Sejarah Indonesia seperti berjalan tertatih di antara dua lorong: lorong penghormatan dan lorong penghilangan ingatan. Di sanalah nama Marsinah dan Munir Said Thalib berdiri sebagai dua penanda penting tentang keberanian sipil melawan kekuasaan—dan tentang bagaimana negara memperlakukan keberanian itu secara berbeda. Padahal keduanya sama-sama dibunuh karena keberanian.

Ada ironi sejarah yang sulit dijelaskan dengan akal sehat di negeri ini. Marsinah kini diabadikan sebagai Pahlawan Nasional. Namanya dikenang negara, dibuatkan museum, dan diresmikan langsung oleh Prabowo Subianto. Sementara Munir—yang perjuangannya melampaui batas-batas sektoral, membela korban penculikan, kekerasan negara, kaum buruh, rakyat kecil, hingga pelanggaran HAM berat—justru seperti sengaja dibiarkan menjadi lorong gelap yang tak pernah selesai. Padahal keduanya sama-sama simbol keberanian sipil di hadapan kekuasaan.

Baca Juga  Tangkap Pemuda di Ternate, Polisi Sita16 Paket Narkotika

Marsinah adalah buruh perempuan yang menuntut hak-hak pekerja di tengah watak represif Orde Baru.
Ia disiksa dan dibunuh secara brutal. Tubuhnya ditemukan dengan jejak kekerasan yang membuat bangsa ini terguncang. Negara bertahun-tahun gagal memberi keadilan utuh atas kematiannya.

No More Posts Available.

No more pages to load.