Sementara Muhammad Kasuba dengan kapasitasnya sebagai mantan Bupati Halmahera Selatan dua periode, harus menegaskan komitmen mereka terhadap keberagaman Maluku Utara.
Maluku Utara: Wilayah Perebutan Simbolisme
Maluku Utara bukanlah wilayah yang homogen. Sebagai wilayah yang terbuka selama berabad-abad, ia merupakan pusat pertemuan dari berbagai etnis, budaya, dan kepentingan politik.
Dengan demikian, simbolisme dan warna identitas bukan hanya sekadar preferensi politik, tetapi merupakan cerminan dari pertempuran identitas dan aspirasi seluruh warga.
Di satu sisi, Husain Alting menghadapi tantangan berat untuk menghapus asosiasi tradisionalnya dengan Tidore dan beradaptasi dengan seluruh elemen lain di luar Tidore.
Sementara di sisi lain, pasangan Muhammad Kasuba Basri Salam harus memastikan bahwa identitas mereka tidak terbatas pada satu kelompok saja, melainkan mampu menarik seluruh elemen warga Maluku Utara yang heterogen.
Dalam hemat penulis, Husain Alting dan Muhammad Kasuba-Basri Salama tidak hanya berkompetisi dari segi program politik, tetapi juga dari sisi simbol dan warna identitas yang mereka usung. Sebab warna identitas memiliki kekuatan untuk membentuk persepsi dan emosi publik.








