Membaca Simbol Perlawanan dan Kritik Sosial dalam Film Pesta Babi

oleh -296 views

Pertama, proxemics atau bahasa ruang. Masuknya ekskavator ke kebun sagu tanpa permisi adalah pelanggaran terhadap ruang intim kolektif Suku Marind. Mama Yasinta dan sukunya berhadapan dengan proyek pembukaan lahan untuk mencetak sawah. Bagi Suku Marind, tanah adat adalah bagian dari tubuh sosial. Mereka menyadari itu namun sulit untuk menolak atau melawan.

“Salib sudah digeser, masih datang lagi dengan senjata mereka.”

Kalimat ini bukan tanda pasrah, melainkan penolakan yang dalam.

Kedua, chronemics atau bahasa waktu. Masyarakat adat tidak langsung bereaksi. Mereka mengamati, menunggu, baru bereaksi ketika batasnya dilampaui. Dalam budaya yang menghargai jeda, diam adalah bagian dari komunikasi. Diamnya sedang berbicara.

Hal ini terlihat ketika Suku Muyu, di bawah pimpinan tokoh adatnya Wilem Kimko, melakukan persiapan untuk Pesta Babi. Meskipun suku ini belum terdampak, namun kecemasan nampak pada suku ini—kecemasan jika hal yang sama akan menimpa mereka. Bagaimana kelangsungan hidup generasi yang akan datang?

Baca Juga  Buka Rangkaian HUT ke-23 Halmahera Timur, Bupati Tekankan Harmoni dan Sportivitas

Wilem Kimko sebagai tetua adat dalam dialognya sangat menekankan konsolidasi dan pewarisan nilai-nilai adat bagi generasi di bawahnya:

“Jangan sampai pendatang mengusir dan merampas hak anak-anak kami hanya karena mereka tidak tau sejarah, asal usul dan adat istiadatnya. Karena itu penting untuk mengingatkan mereka agar mengenal dan menjaga budaya serta tanah adat kami.”

No More Posts Available.

No more pages to load.