Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Langit Gaza tak pernah kosong. Kadang ia dipenuhi pesawat, kadang dipenuhi doa. Dan di bawahnya, anak-anak berdiri dengan tangan kecil menggenggam batu—satu-satunya senjata yang tersisa di negeri yang dirampas segalanya kecuali keberanian.
Mereka tidak belajar dari buku tentang perlawanan.
Mereka belajar dari reruntuhan rumah, dari wajah ayah yang tak pernah pulang, dari ibu yang menatap langit sambil berbisik lirih, “Jangan takut.”
Batu di tangan mereka bukan sekadar benda, melainkan iman yang membatu—doa yang dilemparkan ke langit agar keadilan mendengar.
Setiap kali batu itu meluncur, dunia menatap dengan canggung. Ada yang menyebutnya kekerasan, ada yang menamainya perlawanan.
Tapi bagi Gaza, batu bukan peluru. Batu adalah bahasa. Ia berbicara tentang hak yang direbut, tentang tanah yang ditanam darah, tentang masa depan yang ingin tetap mereka genggam meski langit terus memuntahkan bom.
Dari Intifada pertama pada 1987, gambar anak-anak Palestina dengan batu di tangan menjadi ikon dunia.
Dan kini, lebih dari tiga dekade kemudian, gambar itu kembali hadir—tapi dengan latar yang lebih gelap. Tank-tank Israel kini beroda baja, bersenjata sensor termal, sementara anak-anak Gaza masih dengan batu yang sama.









