Padahal, jika kita tarik ke ranah teori, apa yang terjadi justru berlawanan dengan tesis Samuel P. Huntington dalam The Clash of Civilizations. Huntington memang berbicara tentang benturan peradaban, tetapi benturan itu tidak selalu destruktif. Ia bisa menjadi ruang negosiasi—bahkan penguatan identitas kolektif jika dikelola dengan bijak. Indonesia adalah contoh hidup dari sintesis itu: perjumpaan Islam dan kebangsaan, lokal dan global, Timur dan Barat.
Ironisnya, potensi itu justru tidak dikelola. Ia dihindari. Diksi “Yaman” tidak digunakan untuk merangkul kompleksitas, tetapi untuk menyederhanakan—bahkan mempersempit—makna kebangsaan. Ini bukan sekadar kesalahan retorika, melainkan kegagalan membaca watak peradaban Indonesia itu sendiri.
Sementara itu, retakan antara citra dan realitas semakin sulit disembunyikan. Program yang diklaim sebagai representasi keberpihakan—seperti MBG—dipromosikan sebagai keberhasilan. Namun pada momentum Hari Buruh Internasional, suara buruh justru berkata lain: manfaat yang dijanjikan tidak mereka rasakan.
Di sinilah pemikiran Jürgen Habermas menjadi relevan. Legitimasi, dalam kerangka Habermas, tidak lahir dari klaim sepihak kekuasaan, melainkan dari komunikasi yang dipercaya publik. Ketika bahasa kekuasaan tidak lagi selaras dengan pengalaman hidup masyarakat, yang runtuh bukan hanya citra—melainkan kepercayaan itu sendiri.









