Contoh konkret yang dapat dilihat adalah program-program seperti makan siang bergizi, yang mulai diterapkan di sekolah-sekolah pada Januari 2025.
Program ini, meskipun baru dimulai, menunjukkan komitmen pemerintah terhadap pemberdayaan rakyat dan peningkatan kualitas hidup.
Program ini juga mencakup tiga dimensi besar: pertama, sebagai respons terhadap kondisi ekonomi pasca-COVID-19 yang memengaruhi daya beli masyarakat, terutama keluarga miskin.
Kedua, sebagai bentuk kerakyatan yang berpihak pada kelompok-kelompok rentan. Ketiga, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi bonus demografi Indonesia.
Meskipun program ini memerlukan waktu untuk memberikan dampak signifikan, setidaknya ini adalah langkah tepat untuk membangun kesadaran tentang pentingnya gizi baik bagi anak-anak dan ibu hamil, yang merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia.
Namun, kritik terhadap lambatnya kinerja pemerintah tidak boleh diabaikan begitu saja. Meskipun pemerintah sedang berfokus pada konsolidasi kekuasaan, tantangan besar yang harus dihadapi adalah bagaimana menjaga kepercayaan publik.
Apalagi pemerintahan ini hanya bersifat “melanjutkan” dari pemerintahan sebelumnya. Sehingga wajar bila masyarakat berharap lebih dari performa kinerja pemerintahan ini dalam 100 kerja.









