Oleh: Hermanto, Wartawan Senior
Barangkali negeri ini sedang mencoba belajar menyentuh kembali ujung tubuhnya sendiri. Ujung yang jauh. Ujung yang lama dipandang dengan kekhawatiran dan janji-janji yang sering terlambat datang. Papua, dengan segala kerumitannya, kini kembali jadi medan penting—dan di sanalah, Gibran Rakabuming Raka akan ditempatkan.
Wakil Presiden termuda dalam sejarah republik itu akan berkantor di sana, menetap bila perlu, untuk mengawal pembangunan dan—seperti disebut Presiden—mendorong penyelesaian masalah-masalah strategis. Terdengar mulia. Tapi politik tak pernah sekadar hitam dan putih.
⸻
Papua adalah tanah dengan sejarah panjang yang rumit. Di sana, puluhan tahun pembangunan telah dilakukan, dan tak sedikit prestasi yang dicatat: jalan trans-Papua yang menghubungkan wilayah-wilayah terisolasi, sekolah dan fasilitas kesehatan yang bertambah, hingga jembatan megah yang menyatukan dua tepian yang dulu terpisah.
Di balik itu semua, tetap ada suara-suara yang mengeluh, “Kami dibangun, tapi belum sepenuhnya didengar.”
Bukan karena aparat. Aparat negara—terutama TNI dan Polri—telah bekerja keras menjaga keamanan dan keutuhan wilayah. Mereka bertugas di daerah-daerah yang secara geografis berat, dihadapkan pada tantangan tak biasa, dengan semangat dan pengorbanan yang sering tak tampak di media.










