Degh!
Jantungnya berdegup kencang, wajahnya memanas, dan nafasnya terasa sesak. Dia langsung mendorong Ryan sampai pelukannya terlepas.
“maaf sya, aku khilaf!”
Keysha menggelang, bukan itu masalahnya, dia hanya tidak tahan dengan pelukannya, hatinya akan meledak jika dia memeluknya lebih lama lagi.
“Beri aku waktu untuk memikirkannya lagi Ryan!” ucapnya.
“Jangan lama lama ya, cepat temui aku, berlari padaku dan peluk aku, katakan kalau mencintaiku!”
Keysha mengangguk.
Dan sejak saat itu, setiap kali ia bertemu Ryan, jantungnya berpacu lebih cepat. Dia jadi membisu saat bertemu dengannya, membuat Ryan mengira kalau gadis itu tak suka padanya.
Dua minggu berlalu, Keysha sudah mengerahkan tenaganya untuk menemui Ryan dan mengatakan kalau dia mencintainya. Namun sejak seminggu itulah Ryan tidak lagi pergi ke kampus, baik Dosen ataupun teman temannya tidak ada yang tahu soal itu.
Lalu seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tiga tahun datang untuk menemuinya. Ia adalah ibunya Ryan, yang menitipkan sebuah surat dan sebuket bunga Lily untuknya.
“ini dari Ryan, dia ingin kamu membacanya!” wanita itu menyerahkan sepucuk surat pada Keysha.
Harap harap cemas, keysha mulai membuka isi surat dan membacanya.
“Kalau kau membaca surat ini, itu artinya aku sudah meninggal, kufikir kau tidak pernah suka padaku, karna semenjak aku mengungkapkan perasaanku, kau tidak menjawab dan tidak bicara padaku lagi sejak itu. dan aku terus saja memikirkanmu setiap saat, sampai kecelakaan itu bermula dan membuat hampir seluruh tulangku patah, kufikir hidupku hanya akan bertahan beberapa hari saja, aku berdoa pada tuhan, agar mempersatukan kita dalam keabadian. Salam hangat, Ryan.”











