Antara Joget ‘Veronica’ dan Hilangnya Nurani Sosial Pemuda

oleh -29 views

Oleh: Igo Anamofa, Aktivis pemuda

Hari-hari ini, viral seolah menjadi ukuran eksistensi. Sound “Veronica” berseliweran di mana-mana—ditiru, diulang, dirayakan tanpa jeda. Timeline dipenuhi euforia yang datang cepat, lalu hilang secepat itu pula. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah semua yang viral memang layak dirayakan, atau justru sedang meninabobokan kesadaran?

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Ia adalah cermin dari arah berpikir sebagian pemuda hari ini. Ketika yang dangkal mampu menguasai ruang publik, sementara yang substansial perlahan tersisih, maka persoalannya bukan lagi soal selera. Kita sedang berhadapan dengan krisis orientasi.

Yang lebih mengkhawatirkan, tren semacam ini bukan hanya diikuti, tetapi juga dibenarkan. Ia dipelintir menjadi ekspresi kreativitas, bahkan dijadikan simbol kebebasan. Padahal, tanpa disadari, ruang-ruang penting justru sedang dikosongkan: ruang berpikir kritis, ruang kepedulian, dan ruang tanggung jawab sosial.

Sementara itu, realitas tidak pernah ikut viral.

Baca Juga  Ini Tiga Kampus Terbaik di Ambon Versi EduRank 2026, Unpatti Masih Teratas

Di tingkat nasional, publik terus disuguhi pertunjukan politik yang melelahkan. Para elit sibuk membangun narasi, saling sindir, dan memainkan opini. Namun di balik panggung itu, persoalan mendasar—korupsi, ketimpangan ekonomi, lemahnya penegakan hukum, hingga merosotnya kepercayaan publik—tetap menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung tuntas. Rakyat, pada akhirnya, hanya menjadi penonton dari sistem yang seharusnya bekerja untuk mereka.

No More Posts Available.

No more pages to load.