“Yang paling penting adalah karakter. Musisi harus memiliki identitas yang membuat karyanya berbeda dengan yang lain,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan penyanyi sekaligus mentor, Grace Sahertian. Ia mengaku terkesan dengan kualitas musikalitas para peserta yang datang dengan beragam warna musik, mulai dari ambient, etnik, hingga hip-hop.
Grace juga menyoroti semakin banyaknya musisi perempuan Maluku yang tidak hanya piawai bernyanyi, tetapi juga mampu memainkan instrumen musik dan menulis lagu dengan karakter kuat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa talenta besar tidak akan berkembang maksimal tanpa dukungan infrastruktur seperti studio latihan, fasilitas rekaman, dan panggung pertunjukan yang memadai.
Selain itu, ia menekankan pentingnya konsistensi berkarya, membangun identitas diri, serta memahami strategi promosi sebagai bekal memasuki industri musik.
Peserta Rasakan Dampak Inkubasi
Pendampingan selama lima hari memberikan pengalaman baru bagi para peserta.
Musisi asal Kota Tual, Argon, mengaku memperoleh banyak wawasan mengenai ekosistem industri musik, mulai dari teknik penulisan lagu hingga proses produksi modern yang sebelumnya belum pernah ia pelajari secara mendalam.
Ia berharap program serupa dapat digelar secara berkelanjutan agar semakin banyak musisi dari wilayah kepulauan memperoleh kesempatan yang sama.









