Munir dan Ambon Gila

oleh -61 views
Link Banner

Oleh: Dino Umahuk, Penyair dan Jurnalis

Ambon, terkadang Ambon Gila, begitulah almarhum Munir memanggil saya.

Seingat saya, baik semasa aktif di KontraS dan setelah saya dipindah tugaskan ke Voice of Human Rigth (VHR), almarhum sangat jarang bahkan hampir tidak pernah memanggil nama saya. Selalu Ambon atau Ambon Gila.

Secara pribadi, saya mulai dekat dengan almarhum, sejak konflik Ambon. Kedekatan itu makin intense setelah saya aktif di KontraS Jakarta dan kemudian di VHR.

Link Banner

Hobbynya memelihara ikan, tetutama ikan arwana. Maka tidak heran bila di KontraS, YLBHI, VHR maupun Imparsial selalu ada aquarium ikan hias.

Tidak hanya di kantor, bahkan di mess YLBHI, munir punya aquarium.

Baca Juga  Menteri dan Kepala Daerah Nyanyi Lagu Jangan Mudik, Warganet: Kaya Lagi di Pasar Malam

Saban Sabtu, almarhum pasti keluyuran mencari ikan hias dan orang yang paling sering diajak adalah Andi Panca Kurniawan, jurnalis VHR yang kini jadi film makers dan Choirul Anam, kini komissioner Komnas HAM.

Suatu kali ketika almarhum tengah sibuk memindahkan barang-barang dari Jakarta ke Malang, seingat saya, beberapa kali kami, Munir almarhum, Panca, Anam dan saya terlibat diskusi serius soal cara memindahkan ikan-ikannya agar tidak mati selama dalam perjalanan Jakarta-Malang.

Almarhum lebih memikirkan keselamatan ikan-ikannya daripada barang-barang yang lain, bahkan ketika truck pengangkut sudah tiba malam itu di Kantor VHR di Tebet.

Salah satu kebiasaan almarhum yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan adalah, saya yang paling sering dititipi sepeda motornya.

Baca Juga  NU, Tahlil dan Pancasila yang Final

Jangan bayangkan sepeda motor bagus. Sepeda motornya hanyalah Honda Supra butut yang saban kali dititipi ke saya untuk dibawa paling ke Mess LBH di Jatinegara atau setelahnya kantor VHR di Tebet, pasti ada saja yang rusak.

Anehnya almarhum tak pernah kapok menitipkan sepeda motornya kepada saya.

Selamat jalan Cak. 16 tahun berlalu dan engkau tak pernah mati. menjadi api abadi. menyala di dalam hati. (*)