Narsisme

oleh -40 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

Hari ini Suharto genap berusia 100 tahun. Itu kalau dia.hidup. Tapi dia pernah hidup lama. Dan lama juga menjadi diktator.

Dia gemar mengutip kata-kata indah. Seperti yang saya lihat di kuburannya belum lama ini.

Orang harus hidup dengan kebaikan, katanya. Karena kebaikan itu bekal hidup.

Indah bukan?

Tidak mengejutkan kalau ini dikatakan oleh seorang diktator kejam yang hidupnya selalu tersenyum. Ia yakin bahwa yang dia lakukan itu benar.

Iya yakin pembantaian massal yang dia lakukan itu tepat. Tidak sedikitpun ia merasa bersalah.

Baca Juga  Ada Apa Dengan Republik Ini?

Moralnya adalah kekejian itu sendiri.

Di jaman sekarang ini kita banyak melihat hal yang sama. Pejuang demokrasi merasa harus mengawasi sesama pejuang demokrasi. Dia menjustifikasi diri sebagai yang benar.

Dan dia mengadili orang lain dengan justifikasinya itu.

Banyak hal yang sama kita saksikan di sekitar kita. Orang senang membagi informasi palsu demi memuaskan kepentingannya sendiri. Bahkan bukan untuk kepentingan ideologisnya. Hanya kepentingan ego-nya.

Aktivis lingkungan yang sangat radikal bisa diam-diam menjadi pembela plastik. Penggiat HAM menjadi pembela jendral pembunuh. Akademisi tajir ternyata adalah plagiator.

Sungguh sulit punya kepercayaan . Tapi itu tidak hal yang baru.

Seperti yang saya tunjukkan di atas, bahkan Suharto pun sudah melakukan hal yang sama.

Baca Juga  Corona Tembus Angka 387 Kasus, Gubernur Maluku Bilang Mungkin Karena Hujan

Hanya saja keadaan sekarang lebih buruk. Banyak orang melakukan apa yang dilakukan Suharto tanpa tujuan apapun kecuali mengabdi pada egonya sendiri.

Kultur narsistik ini sangat dalam karena sama sekali tidak berlandaskan keyakinan apapun. Suharto memandang dirinya pahlawan. Sama seperti narcisists yang sekarang mendominasi ruang publik kita.

Jangan berusaha berlawanan dengan mereka. Itu sama seperti memberi cermin kepada seekor monyet. Dia akan marah karena yang dilihatnya dikiranya musuhnya.

Narcisist melihat dirinya sendiri sebagai musuh. Untuk itulah dia tidak perlu melihat ke dalam. Tidak akan pernah rendah hati mengakui kekurangan dan kelemahannya. (*)