Oleh: Dino Umahuk, Sastrawan dan jurnalis
Di antara tiang-tiang bambu yang mulai dikibarkan menjelang Agustus, ada bendera yang tidak berwarna merah putih, tapi bergambar tengkorak bertopi jerami. Bendera bajak laut dari semesta One Piece. Bendera imajinasi. Bendera kebebasan. Tapi justru di situ, negara merasa terancam.
Maka datanglah aparat. Dengan wajah tegas dan langkah berat, mereka turunkan bendera itu seolah sedang menggulung bahaya. Padahal, tak ada dentuman senapan, tak ada seruan perang. Hanya sehelai kain yang membawa mimpi anak muda tentang petualangan, kesetiaan, dan keberanian melawan tirani.
Indonesia, apakah engkau sedang lupa bahwa merdeka bukan hanya tentang mengibarkan bendera resmi, tapi tentang keberanian berpikir di luar garis?
Negeri Ini Pernah Menjadi Imajinasi
Sejarah bangsa ini bukan dibangun oleh barisan yang takut pada simbol. Tapi oleh para pemimpi yang menulis puisi di penjara, mengajar dalam hutan, dan menantang penjajah dengan sebait lagu. Mereka yang membawa senjata, tapi juga membawa kata.
Apakah kita lupa bahwa negeri ini dulu lahir dari sajak Chairil dan amarah Tan Malaka? Dari api yang membakar dada-dada muda, bukan dari protokol yang membekukan gairah hidup?
Kini, di era digital yang mengalir cepat seperti sungai tanpa muara, kita malah sibuk memburu tengkorak kartun. Kita memberi stempel makar pada sehelai bendera fiksi. Padahal, makar sejati justru sedang duduk rapi di kursi kekuasaan, menyedot anggaran, merampas tanah, dan membungkam suara rakyat.










