Oleh: Smith Alhadar, Penasihat Institute for Democracy Education (IDe)
Kita khilaf memilih presiden. Ternyata Presiden Prabowo Subianto bukan pemimpin yang akan membawa kita ke gerbang Indonesia Emas. Prabowo adalah “old wine in a new bottle”. Frasa ini mengacu pada gagasan lama dalam bentuk baru atau diperbarui. Meskipun esensinya sama, kemasannya berubah. Ini berlaku untuk berbagai konteks, termasuk ide, konsep, produk, atau kebijakan yang diberi merek baru agar tampak segar dan inovatif meskipun pada dasarnya tak berubah.
Saya percaya Prabowo adalah tokoh yang Ikhlas sebagaimana dikatakan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid. Tapi Ikhlas bukan prasyarat primer untuk menjadi capable dalam memimpin negara sebesar dan sekompleks Indonesia. Ikhlas adalah hati yang lapang untuk menerima semua takdir, bukan kemampuan menerima yang bengkok dan menjustifikasi yang salah. Ikhlas harus tercermin pada tindakan jujur dan objektif meskipun berpotensi merugikan dirinya.
Jika diimplementasikan dalam ranah politik, keikhlasan adalah sikap kenegarawanan pada nilai-nilai luhur bangsa dan negara, serta komitmen tulus dan istiqamah pada amanat penderitaan rakyat, apapun resikonya. Bukan sikap pragmatis untuk menyelematkan diri dengan cara melindungi kriminal atas nama “mikul dhuwur mendem jero” yang out of context. Etika sosial Jawa yang diperkenalkan Presiden Soeharto ini bermotif politik untuk meredam kemarahan simpatisan Presiden Soekarno.









