Meski demikian, hasil pengamatan dan pengukuran lapangan yang disampaikan Abraham perlu ditempatkan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam kajian teknis yang lebih komprehensif.
Sebab, untuk memastikan keamanan suatu konstruksi di kawasan sungai, diperlukan analisis hidrologi dan hidraulika yang mencakup debit puncak, kapasitas penampang sungai, sedimentasi, pengaruh pasang laut, hingga potensi banjir dalam berbagai skenario curah hujan.
Demikian pula, keberadaan tiang penyangga sementara perlu dipastikan melalui dokumen teknis pelaksanaan konstruksi, termasuk mekanisme dan waktu pembongkarannya.
Di sisi lain, penjelasan dari Balai Wilayah Sungai sebagai instansi teknis yang memiliki kewenangan di bidang pengelolaan sumber daya air juga penting untuk disandingkan dengan hasil pengamatan tersebut.
Dengan demikian, polemik pembangunan Sungai Waitomu tidak seharusnya berhenti pada perdebatan dan saling klaim antarpihak.
Yang dibutuhkan adalah keterbukaan informasi, kajian ilmiah yang objektif, serta koordinasi seluruh pihak terkait agar pembangunan kawasan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengabaikan keselamatan warga dan kelestarian lingkungan.
(Josian Kakisina)









