Porostimur.com, Ternate – Provinsi Maluku Utara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi secara nasional dengan angka double-digit. Namun, di balik angka gemilang itu, masyarakat lokal justru merasakan tekanan ekonomi yang semakin berat.
Pertumbuhan Tidak Inklusif

Menurut mantan birokrat senior dan politisi Maluku Utara, A. Malik Ibrahim, pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara tidak inklusif karena didorong oleh sektor tambang dan hilirisasi nikel.
“Masyarakat lokal nyaris tidak merasakan manfaat dari pertumbuhan ekonomi ini. Mereka hanya menjadi penonton, sementara keuntungan mengalir ke sektor industri dan investor besar,” ujarnya.
Fenomena ini tercermin dalam menurunnya daya beli masyarakat, yang terlihat dari devaluasi ekonomi pada kuartal III tahun ini. Bahkan kelompok kelas menengah mulai mengalami tekanan serius akibat kebijakan pajak daerah.
Tekanan Pajak dan Fenomena “Tax Squeeze”
Malik Ibrahim menyoroti munculnya fenomena “tax squeeze”, di mana rakyat tidak menikmati pertumbuhan ekonomi, tetapi justru menanggung beban pungutan.
Pemerintah daerah, pascapengurangan dana transfer dari pemerintah pusat, melakukan ekspansi melalui pendapatan asli daerah dengan meningkatkan pajak dan retribusi.










