“Dulu pelabuhan Ambon rata-rata BSA, atau kecepatan handling peti kemas dalam satu jam, jadi dalam satu jam dulu rata-rata, sebelum transformasi, kita cuma bisa bongkar sekitar 15 boks per jam dari kapal, bongkar ataupun muat,” ungkapnya.
“Setelah kita lakukan standarisasi dan sistemisasi, sekarang rata-rata kita bisa bongkar 26 boks. Jadi hampir dua kali lipat,” sambungnya.
Selain memaksimalkan pelayanan, Rouland mengatakan Pelindo juga telah bekerja sama dengan sejumlah pihak terkait untuk meningkatkan arus peti kemas di Pelabuhan Ambon. Salah satunya dengan berkoordinasi dengan perusahaan pelayaran.
Tak hanya itu, TPK Ambon juga mendorong percepatan ekspor, khususnya untuk komoditas ekspor yang memiliki potensi cukup besar. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan arus peti kemas di Pelabuhan Ambon.
“Kemudian beberapa yang kita lakukan juga kemarin, percepatan ekspor. Kami kerjasama dengan Pemprov untuk percepatan ekspor. Jadi dipermudah,” ungkap Rouland.
Di Terminal Peti Kemas Ambon sendiri saat ini sudah tersedia ekspor center yang dapat memudahkan para eksportir. Pihak Pelindo juga telah menyediakan fasilitas lainnya seperti refeer station untuk mendukung aktivitas ekspor di TPK Ambon.









